Sabtu, 16 Februari 2013

Cita-Cita Harus Diperjuangkan

Setiap orang yang berakal pasti memiliki sebuah cita-cita yang ingin di wujudkan. Namun kita harus sadar bahwa setaip cita-cita belum tentu terwujud dalam waktu yang kita inginkan. Yang prnting satu tekada dan keinginan mau belajar dan mewujudkan cita-cita menjadi kenyataan.
Ketika kita masih sekolah semangat dan idealisme mengejar cita-cita begitu besar. Hampir semua siswa yang ada di sekolah, umumnya memilki cita-cita. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, insinyur, pengusaha sukses , penulis dan lain-lain. Namun sayangnya ilmu tentang bagaimana mewujudkan cita-cita secara nyata, jarang kita peroleh di sekolah. Pada umumnya sekolah hanya mengajarkan kepada kita tentang bagaimana memperoleh prestasi yang bagus pada setiap mata pelajaran, tanpa mau memperhatikan aspek-aspek lain yang bisa dikembangkan. Sehingga ketika mereka lulus mereka harusmenghadapi kenyataan bahwa apa yang pernah mereka bayangkan di sekolah tidak bisa terwujudkan dengan mudah.
Di sekolah kita memang memperoleh berbagai macam pengetahuan, tapi pada umumnya pengetahuan itu bersifat teoritis, sehingga ketika kita dihadapkan pada kehidupan nyata, kita bingung bagaimana harus bertindak. Sehingga saya menyimpulkan bahwa pendidikan belum mempersiapkan siswa secara sungguh dalam menghadi sebuah kenyataan hidup. Ini adalah ilmu yang mahal, karena tidak semua orang bisa dengan mudah menghadapi sebuah kegagalan.
Saya sendiri pernah mengalami masa-masa seperti. Waktu sekolah sangat antusias dan semangat menjadi orang sukses. Berbagai macam kegiatan organisasi sekolah dari OSIS, pramuka, olah raga, sampai music saya ikuti. Dari kegiatan itu saya mendapatkan banyak wawasan bagaimana menjadi siswa siswa yang mempunyai kelebihan. Tapi jujur saja saya belum pernah mendapatkan ilmu bagaimana menghadapi kehidupan nyata setelah saya lulus sekolah.
Apa yang kita pikirkan belum tentu jadi kenyataan itulah yang saya alami. Saya harus menerima nasib bahwa saya harus gagal kuliah karena orang tua tidak mampu membiayai. Saat itu saya meresa bingung, tidak tahu bagaiaman harus menentukan langkah. Keterpurukan pun menghampiri saya.
Selama empat tahun lulus sekolah hidup saya lalui dengan cukup berat, kesana-kemari melamar kerja di pabrik di Jakarta tidak saatu pun ada panggilan. Karena tidak mau menganggur kerja apapun saya lakukan. Saya pernah menjadi tukang tukang amplas mebel, pernah jadi tukang kompor dapur, dan jadi kuli bangunan. Itu adalah masa-masa yang berat bagi saya. Ditambah lagi saya juga pernah terjerumus pada hal-hal yang tidak baik seperti berkelahi dan mengkonsumsi minuman keras. Lengkap sudah keterpurukan saya. Hidup susah masih saya persusah dengan tingkah laku saya yang tidak baik.
Alhamdulillah saya pun segera sadar, bahwa apa yang saya lakukan tersebut salah. Saya mulai menata kembali puing-puing semangat saya yang telah hilang. Saya mulai memperbaiki diri, dengan banyak berdoa kepada Tuhan, berkumpul dengan orang-orang baik, dan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tepat di tahun 2007 saya memutuskan untuk kuliah, dengan modal nekad. Orang tua saya awalnya juga kaget, mereka bingung bagaimana dengan uang kuliah yang akan saya gunakan. Waktu itu saya membuat kesepakatan dengan orang tua bahwa saya akn membiayai kuliah saya sendiri sambil bekerja. Melihat tekad dan semangat saya yang besar, mereka pun merestui bahkan mereka mau membantu kuliah saya semampu mereka.

Saking semangatnya sayapun segera mendaftarka diri di Sekolah Tinggi Negeri Di Kota Kudus. Tapi sayang nasib baik belum menyertaiku saya gagal mengikuti seleksi di Sekolah Tinggi tersebut. Tapi saya gak patah semangat, tidak diterima di situ saya pun mendaftarkan diri di Universitas lain, tapi masih satu kota. Kali ini Tuhan mengabulkan doaku, saya di terima dan resmi menjadi mahasiswa.
Saat kuliah pun hambatan selalu ada. Saya pernah tidur di gudang tempat saya bekerja, yang tidak ada jendela dan pintunya, tidur beralas tikar, kalau hujan kebocoran, dan kalau malam kaya rumah hantu sangat menyeramkan. Tapi saya masih bersyukur masih punya tempat tinggal. Menginjak semester 2 kuliah. Bosku bangkrut, saya terpaksa harus manganggur untuk beberapa saat, saya pun pernah tidur di Musola selama dua buan karena tidak punya kos-kosan. Namun saya mencoba untuk tegar, karena saya yakin badai akan berlalu.
Keyakinan saya terwujud, tanpa saya sadari pertolongan datang bertubi-tubi kepada saya. Pertolongan itu banyak sekali, Tuhan melalui tante saya memberika rejeki tambahan untuk biaya kuliah saya, ada teman saya yang menawarkan tempat tinggal gratis, dan masih banyak lagi. Hingga akhirnya saya punya tempat tinggal menetap dan bisa kuliah lebih serius.
2011 kemarin saya telah di wisuda. Bangga rasanya Tuhan telah mewujudkan impian saya. Bukan itu saja, Tuhan telah memberikan hadiah kepada saya, yang lebih dari yang saya cita-citakan. Lulus kuliah saya mendapatkan rekomendasi untuk menjadi staf pengajar tempat saya kuliah. Ini adalah hadiah luar bisa yang diberikan Tuhan kepada saya. Mungkin bagi sebagian orang, apa yang saya raih ini belumlah apa-apa. Tapi bagi saya apa yang saya raih ini adalah nikmat yang tidak ternilai harganya. Dengan begini saya bisa mengatakan bahwa ketika kita punya cita-cita, genggamlah cita-cita itu dan raihlah dengan perjuangan, niscaya Tuhan akan mewujudkan cita-cita tersebut.
Beranjak dari situlah saya berusaha berbagi dengan teman-teman dan selalu mengatakan tidak ada kata terlambat untuk melakukan sebuah perubahan. Kuncinya satu belajar, belajar dan belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts